
Selampung.ID – Munculnya istilah super flu belakangan ini sempat menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik karena virus tersebut tidak seganas COVID-19.
Menurut Menkes, super flu yang dimaksud merupakan virus influenza tipe A subtipe H3N2, jenis virus flu yang sebenarnya sudah lama dikenal di dunia medis dan telah beredar sejak bertahun-tahun lalu.
“Apakah ini mematikan dibanding COVID-19? Tidak,” tegas Budi Gunadi Sadikin.
Ia menjelaskan, kemunculan subclade atau varian baru pada virus influenza merupakan hal yang wajar, serupa dengan kemunculan varian Delta atau Omicron pada virus COVID-19 di masa pandemi. Meski disebut “super flu”, virus ini pada dasarnya tetap termasuk influenza biasa.
Menkes juga menyampaikan bahwa cara penularan virus H3N2 sama seperti flu pada umumnya, yakni melalui udara atau droplet. Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang mengalami gejala batuk, pilek, atau demam.

“Ini influenza biasa dan sudah ada sejak lama,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga Desember 2025, tercatat 62 kasus super flu di Indonesia. Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok perempuan dan anak-anak. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai masih terkendali dan tidak menimbulkan lonjakan kasus berat.
Menkes pun mengimbau masyarakat agar tetap waspada tanpa harus khawatir berlebihan. Ia menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat.
“Yang paling penting adalah makan cukup, tidur cukup, dan olahraga cukup. Kalau imun kita bagus, flu bisa dilawan,” kata BGS.
Selain itu, vaksin influenza tahunan yang saat ini tersedia juga disebut masih efektif untuk menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat infeksi influenza H3N2.
Jika terinfeksi, Menkes menyebut gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu biasa dan sebagian besar pasien dapat pulih tanpa komplikasi serius.
“Jadi tidak perlu khawatir berlebihan seolah-olah ini seperti COVID-19. Ini bukan. Ini influenza H3N2,” tegasnya.
Ia menambahkan, virus influenza H3N2 biasanya meningkat di negara-negara dengan empat musim, terutama saat musim dingin. Sementara di Indonesia, peningkatannya relatif tidak signifikan dan masih dapat ditangani oleh sistem kesehatan nasional.