
SELAMPUNG.ID – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana pasar di berbagai wilayah Lampung mulai terasa lebih ramai dari biasanya. Aktivitas jual beli meningkat, kebutuhan dapur pun perlahan ikut melonjak. Untuk memastikan masyarakat bisa menjalani Ramadan dengan tenang, Pemerintah Provinsi Lampung bersama pemerintah pusat turun langsung melakukan pengawasan ketat terhadap distribusi dan harga bahan pangan.
Selama tiga hari, 20–22 Februari 2026, tim gabungan menyisir sejumlah titik distribusi pangan. Kegiatan ini dipimpin oleh Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Badan Pangan Nasional, Sri Nuryanti, sebagai bagian dari Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan yang bergerak serentak di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Pemeriksaan dilakukan menyeluruh, mulai dari produsen, distributor, hingga pedagang eceran. Tim memastikan produk pangan yang beredar memenuhi standar keamanan, memiliki izin edar yang lengkap, serta dijual sesuai ketentuan Harga Acuan Penjualan (HAP) dan Harga Eceran Tertinggi (HET). Mutu dan kondisi fisik produk juga tak luput dari perhatian.
“Pengawasan ini bertujuan memastikan masyarakat Lampung mendapatkan bahan pangan dengan kualitas terjamin, aman dikonsumsi, dan dijual sesuai ketentuan harga yang berlaku, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dan merayakan Idul Fitri dengan tenang,” ujar Sri Nuryanti.
Dalam peninjauan lapangan, tim menemukan sejumlah produk pangan olahan dengan kemasan penyok yang berpotensi menurunkan kualitas isi di dalamnya. Produk tersebut langsung diminta untuk tidak diperjualbelikan. Selain itu, perhatian khusus juga diberikan pada penanganan daging dan ayam segar. Penjualan ayam tanpa proses pembersihan sesuai standar dinilai berisiko mempercepat pertumbuhan bakteri dan membahayakan kesehatan konsumen.
Pemerintah daerah pun didorong untuk lebih aktif memberikan sosialisasi kepada pelaku usaha, khususnya terkait tata cara penanganan ayam pascapenyembelihan agar sesuai standar keamanan pangan.
Dari sisi harga, kabar baiknya, sebagian besar komoditas strategis seperti daging sapi dan daging ayam terpantau stabil, bahkan di beberapa titik berada di bawah harga acuan. Namun, cabai rawit merah masih menjadi perhatian karena dijual di atas harga acuan, menyentuh sekitar Rp70.000 per kilogram. Kenaikan ini dipengaruhi keterbatasan pasokan dari sentra produksi di Pulau Jawa.
Untuk mengantisipasi lonjakan harga yang lebih tinggi, Pemprov Lampung berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna memfasilitasi distribusi komoditas dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan stok sekaligus menstabilkan harga di pasaran.

Penguatan koordinasi lintas sektor ini menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan, terutama pada momen hari besar keagamaan yang identik dengan peningkatan konsumsi masyarakat. Dengan pengawasan intensif dan sinergi yang solid antara pusat dan daerah, Lampung optimistis kebutuhan pangan masyarakat selama Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah tetap aman, terkendali, dan terjangkau.