
Selampung.id-Perjuangan guru dan siswa di wilayah Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, terus berulang setiap hari. Demi menggapai pendidikan, anak-anak sekolah terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu dayung, sebuah rutinitas berisiko yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Bagi warga, kondisi ini bukan sekadar soal sulitnya akses, tetapi menyangkut keselamatan jiwa. Setiap perjalanan menuju sekolah menjadi pertaruhan nyawa. Harapan mereka pun sederhana: hadirnya jembatan yang layak agar anak-anak dapat bersekolah dengan aman.
Namun, hingga kini, harapan tersebut belum juga terwujud. Pembangunan Jembatan Kali Pasir yang dimulai sejak 2018 masih terbengkalai tanpa kejelasan. Warga pun mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menuntaskan proyek vital ini.
Berdasarkan informasi di lapangan, proyek jembatan senilai Rp29 miliar tersebut telah mengalami pergantian kontraktor hingga tiga kali. Ironisnya, salah satu kontraktor yang pernah mengerjakan proyek ini bahkan sempat terseret kasus dugaan korupsi. Meski demikian, hingga kini, progres pembangunan tetap tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Kondisi semakin mengkhawatirkan saat musim hujan tiba. Debit air Sungai Kali Pasir yang meningkat tajam membuat penyeberangan menjadi sangat berbahaya. Tak jarang, para siswa memilih absen karena takut terseret arus deras.
“Kalau air sungai meluap, anak-anak tidak berani menyeberang. Kami sangat khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutur salah seorang warga.
Masyarakat mendesak pemerintah daerah hingga pemerintah pusat agar segera turun tangan memberikan solusi nyata. Mereka menilai, persoalan ini tidak bisa terus dibiarkan karena menyangkut hak pendidikan dan keselamatan generasi penerus bangsa.
Tak hanya itu, warga juga berharap perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto, agar jeritan masyarakat Way Bungur dapat didengar dan segera ditindaklanjuti.
“Bagi kami, jembatan ini bukan sekadar bangunan, melainkan penghubung kehidupan. Kami butuh kepastian kapan jembatan ini benar-benar selesai,” tegas seorang warga, Jumat (30/1/2026).
Hingga berita ini diturunkan, Jembatan Kali Pasir masih tampak terbengkalai. Di seberangnya, para guru dan siswa terus berjuang melawan arus, berdayung demi menuntut ilmu—sambil menunggu hadirnya keadilan yang terasa kian jauh dari jangkauan.