Pesawaran – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan selama bulan Ramadan mulai menuai keluhan dari orang tua murid di Lampung. Banyak wali murid mengunggah paket makanan yang dianggap jauh dari kata “bergizi” dan kurang layak bagi anak-anak.
Selain mengkritik kualitas makanan, orang tua juga menyoroti bahwa harga menu yang diterima anak-anak tak sampai Rp 12 ribu. Ina, seorang wali murid di Bandar Lampung, mengaku anaknya mendapatkan makanan dengan rasa yang aneh, bahkan asam.
“Sekolah anak saya dapat MBG dari SPPG Langkapura. Kemarin roti bungkusnya asam, akhirnya saya buang daripada kenapa-kenapa. Hari ini tambah parah, cuma dapat tiga buah salak sama susu kotak kecil,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Ina berharap pemerintah segera mengevaluasi program MBG Ramadan agar manfaatnya benar-benar dirasakan.
“Program ini harus dievaluasi, takutnya ada oknum yang memanfaatkan perintah pusat soal makanan kering selama Ramadan,” tambahnya.
Di Kabupaten Pesawaran, Rizki, ibu rumah tangga, menyatakan anaknya juga mendapat menu MBG yang menurutnya tidak masuk akal.
“Kemarin cuma dua roti kecil sama satu susu kotak, hari ini sempol tiga biji sama satu roti kecil. Kalau dihitung, harganya nggak sampai Rp 10 ribu, paling 6–7 ribu. Takutnya ini jadi aji mumpung,” kata Rizki.
Roy Triono, orang tua siswa SMPN 22 Bandar Lampung, menilai menu MBG anaknya selama Ramadan terkesan monoton dan seadanya.
“Kemarin menu MBG dua potong jagung rebus, satu salak, beberapa kacang rebus, satu potong paha ayam kecil. Hari ini lemper satu, nugget ayam kecil satu, pisang muli satu, dan lima butir kurma. Menu seperti ini jauh dari standar kecukupan gizi,” jelas Roy.
Ia menambahkan, penyusunan menu MBG selama Ramadan seolah hanya memenuhi kewajiban formal. Roy juga mempertanyakan kredibilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia.
“Anggarannya sudah jelas, tapi ketika sampai ke anak-anak mungkin ditekan lagi sehingga makanannya ala kadarnya. SPPG seharusnya diaudit oleh Badan Gizi Nasional,” tegasnya.