
Selampung.ID– Pemerintah Provinsi Lampung tengah menyiapkan langkah strategis untuk mentransformasi ekonomi pedesaan secara masif. Melalui program unggulan bertajuk “Desaku Maju”, Pemprov Lampung berencana membangun fasilitas pengering komoditas (dryer) di 500 desa yang menjadi sentra produksi utama di seluruh wilayah Lampung.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa proyek pembangunan dryer ini merupakan bagian dari rancangan besar pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi para petani.
Meningkatkan Daya Tawar dan Hilirisasi Lokal
Menurut Gubernur Mirza, ketersediaan fasilitas pengering di tingkat desa akan berdampak langsung pada posisi tawar petani. Dengan adanya alat ini, petani tidak lagi terburu-buru menjual hasil panen dalam kondisi basah yang harganya cenderung rendah.
“Melalui pembangunan pengering ini, petani di Lampung akan memiliki daya tawar yang jauh lebih baik. Kita ingin proses hilirisasi benar-benar terlaksana di tingkat desa,” ujar Gubernur Mirza dalam keterangannya di Bandar Lampung, Kamis.
Lebih lanjut, ia memaparkan visi jangka panjang di mana desa menjadi pusat ekosistem produksi. “Targetnya, pengolahan pakan ternak, produksi ayam, hingga rantai distribusi pangan semuanya akan berbasis di desa,” imbuhnya.
Strategi Menahan Modal di Desa
Program Desaku Maju dirancang sebagai solusi untuk mengatasi fenomena perginya modal dari desa. Selama ini, sebagian besar komoditas unggulan Lampung keluar dalam bentuk mentah (raw material), sehingga nilai tambah ekonominya justru dinikmati oleh daerah lain.
Lampung sendiri memiliki kekayaan komoditas luar biasa, seperti padi, jagung, dan singkong. Sektor ini menjadi tumpuan bagi sekitar 1,2 juta kepala keluarga, atau mencakup hampir 70 persen populasi penduduk Lampung.
“Kalau tata kelola ketiga komoditas ini berhasil kita selesaikan, Lampung akan jauh lebih sejahtera. Kita harus berhenti mengirim barang mentah keluar daerah,” tegas Gubernur.
Efisiensi Logistik dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Gubernur Mirza memberikan ilustrasi konkret pada komoditas jagung. Meski Lampung mampu memproduksi hingga 1,7 juta ton jagung per tahun, sistem pengeringan di tingkat desa saat ini masih sangat minim.
“Bayangkan jika jagung dikeringkan di desa, kemudian diolah menjadi pakan ternak di desa, lalu ayamnya dibesarkan dan diproses di desa itu juga. Produk akhirnya kemudian masuk ke dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di desa setempat. Kita bisa memangkas biaya logistik secara drastis, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memperkuat asupan protein masyarakat,” urainya secara rinci.
Modernisasi Pertanian dan Peran BUMDes
Selain fasilitas pengering, Pemprov Lampung juga telah menyiapkan dua inisiatif pendukung lainnya untuk mendongkrak produktivitas desa:
- Program Pupuk Organik Cair (POC): Akan disalurkan ke 2.000 desa dengan target meningkatkan kesuburan lahan dan produktivitas hingga 15 persen.
- Revitalisasi BUMDes: Pemerintah akan mendorong penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar mampu bertindak sebagai offtaker atau penyerap hasil produksi lokal secara profesional. Saat ini, dari total 2.300 BUMDes berbadan hukum di Lampung, hanya sebagian kecil yang telah benar-benar aktif dan produktif.
Ajakan Kolaborasi untuk SDM Unggul
Menutup keterangannya, Gubernur Mirza menekankan bahwa kunci pertumbuhan ekonomi adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Ia mengajak kalangan akademisi dan alumni untuk turut berkontribusi dalam membangun desa.
“Kami sangat membutuhkan dukungan para ahli untuk memperkuat pendidikan vokasi di desa, melakukan penelitian pakan ternak berbasis bahan lokal, serta mendampingi tata kelola BUMDes agar semakin maju,” pungkasnya.